Siapkan Indonesia Mencicipi Jaringan 5G? Leave a comment

Hong Kong – Usai menggelar 4G, sejumlah negara bersiap menyongsong koneksi 5G. Nah kapan kiranya Indonesia ikut bermigrasi ke jaringan generasi kelima itu?

Sejumlah daerah di Tanah Air kini telah terselimuti jaringan 4G. Bila melihat tahapannya, memang setelah menerapkan 4G, selanjutnya akan mengadopsi 5G.

Hanya saja karena migrasi jaringan generasi sebelumnya cukup lambat, banyak pihak sedikit pesimis 5G dapat cepat dinikmati di Indonesia. Ditemui di gelaran Qualcomm 4G/5G Summit 2016 di Hong Hong, Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Dr Agung Harsoyo punya pendapat lain. Menurutnya siklus migrasi akan makin cepat.

“Saat migrasi ke 3G memang cukup lama, tapi semakin cepat di 4G. Begitula dengan 5G, akan lebih cepat lagi,” kata Agung.

Country Director Qualcomm Indonesia Shannedy Ong punya pendapat yang serupa. Menurutnya tidak butuh lama bagi kita dapat mencicipi koneksi 5G di Tanah Air. Pengadopsiannya bakal lebih cepat ketimbang dua jaringan sebelumnya.

“Standarisasi 3GPP relese 16 kemungkinan akan keluar 2018. Di Indonesia mungkin setelah 2020,” kata Shannedy saat ditemui di perhelatan yang sama.

Migrasi 2G ke 4G

Walau 5G diprediksi bakal lebih cepat masuk ke Indonesia, semua itu masih bergantung pada migrasi 4G saat ini. Sebab di sejumlah daerah Indonesia masih banyak masyarakatnya yang setia menggunakan ponsel 2G untuk berkomunikasi.

Jika masyarakat berhasil diajak berpindah ke 4G. Spektrum yang digunakan untuk jaringan 2G dapat dimaksimalkan untuk 4G. Sehingga ketika 5G datang, dapat langsung diterapkan tanpa perlu penantaan.

“Saat ini spektrum 1,8 GHz banyak digunakan untuk 2G. Kalo mau memberikan layanan 4G secara maksimal, harus lebih dari 20 Mhz. Total yang operator punya 22,5 Mhz, itu pun masih bercampur dengan 2G di dalamnya. Jika dibiarin, 4G tidak dapat dimaksimalkan,” jelas Shannedy.

Untuk itu perlu upaya agar masyarakat tertarik menggunakan 4G. Pihak Qulacomm sendiri, kata Shannedy, menjalin kolaborasi dengan operator untuk menyediakan smartphone 4G terjangkau untuk masyarakat di daerah-daerah. “Harganya di bawah Rp 800 ribu,” ujar Boas Qualcomm Indonesia itu.

Dengan ponsel tersebut diharapkan dapat mengedukasi masyarakat tentang keunggulan dari jaringan 4G. Alhasil tidak ada lagi masyarakat yang menggunakan 2G untuk berkomunikasi.

Shannedy turut berharap pemerintah membuat aturan tegas soal keberlangsungan jaringan 2G di Tanah Air. Sehingga migrasi ke 4G akan semakin cepat lagi.

“Pemerintah Thailand telah mengeluarkan keputusan untuk mematikan 2G. Semoga ada ketegasan (serupa) dari pemerintah kita,” pungkasnya. (afr/fyk) (Sumber:inet.detik.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Chat WA kami